Dari pojok nusantara untuk Indonesia

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Keunikan Sarung Adat Ile Ape Proses 3 Tahun Hargai Rp25 Juta, Memukau Pengunjung Festival Lamaholot

Nilai tinggi dari kain tenun ini bukan semata-mata karena harganya, melainkan karena proses pembuatan yang sangat panjang, memakan waktu hingga kurang lebih tiga tahun, serta melibatkan ketelitian dan kesabaran luar biasa dari para pengrajin.

Admin
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:21:09 WIB
Dok. Istimewa

Lembata, Pojoknesia.com – Salah satu daya tarik utama yang menyita perhatian pengunjung pada acara pembukaan Festival Lamaholot Tahun 2026 di Pantai Wisata Wulen Luo, Lewoleba, Rabu (1/7/2026), adalah kehadiran Sarung Adat khas Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur yang dipasarkan dengan harga mencapai Rp25 juta per helai.

Nilai tinggi dari kain tenun ini bukan semata-mata karena harganya, melainkan karena proses pembuatan yang sangat panjang, memakan waktu hingga kurang lebih tiga tahun, serta melibatkan ketelitian dan kesabaran luar biasa dari para pengrajin.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/bupati-dan-wakil-bupati-lembata-hadiri-upacara-hut-ke-80-bhayangkara

Kain sarung adat tersebut merupakan karya dari Kelompok Penenun Peten Ina Desa Lamagute. Menurut Ketua Kelompok, Agnes K. Witak, proses pembuatannya dilakukan secara tradisional mulai dari nol, yakni dari menanam kapas sebagai bahan baku utama.

"Prosesnya sangat panjang. Dimulai dari menanam kapas, memanen, lalu melakukan Balo Kape atau memisahkan kapas dari bijinya secara manual. Kemudian kapas tersebut diolah kembali atau dibuhu agar halus, lalu dipintal menjadi benang melalui proses Tue Lelu," jelas Agnes.

Keunikan lainnya terletak pada teknik pewarnaan alami yang memakan waktu bertahun-tahun. Untuk mendapatkan warna hitam pekat, benang direndam menggunakan ekstrak tanaman Taum dicampur kapur sirih selama kurang lebih tiga tahun. Sedangkan untuk mendapatkan warna coklat matang, benang direndam menggunakan akar pohon Mengkudu yang dicampur dengan tanaman Kokal yang didatangkan khusus dari Kabupaten Alor, dengan proses perendaman yang juga memakan waktu sekitar tiga tahun.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/bupati-lembata-sebut-festival-lamaholot-tak-sekadar-hiburan-tetapi-penggerak-ekonomi

"Dulu tanaman Kokal dari Alor kita tukar dengan jagung, sekarang satu ikat kecil harganya Rp50.000. Proses yang lama inilah yang membuat warna menjadi sangat kuat, stabil, dan bernilai tinggi," tambahnya.

Karena kerumitan dan lamanya proses tersebut, dalam satu tahun kelompok ini hanya mampu menghasilkan satu hingga dua helai kain tenun asli. Harganya pun bervariasi, sekitar Rp8 juta untuk motif hitam dan mencapai Rp25 juta untuk motif coklat.

Secara fungsi, kain ini memiliki makna sakral dan sangat penting dalam tata cara adat masyarakat Ile Ape.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/bupati-dan-wakil-bupati-lembata-hadiri-upacara-hut-ke-80-bhayangkara

"Sarung ini wajib ada dalam setiap upacara adat dan pernikahan. Jika laki-laki memberikan gading, maka pihak perempuan membalas dengan sarung ini. Ada perbedaan juga, untuk pria disebut Snawel (polos), sedangkan untuk wanita disebut Wate (bermotif)," terang Agnes.

Saat ini, di Desa Lamagute hanya tersisa lima kelompok yang masih konsisten menenun kain adat asli. Meskipun mendapatkan dukungan stimulan dari Dana Desa, mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terkait pemasaran agar produk luar biasa ini tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga dapat menembus pasar yang lebih luas hingga ke luar daerah.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/penyampaian-laporan-pertanggungjawaban-pelaksanaan-apbd-ta-2025-dalam-rapat-paripurna-dprd

Pada Festival Lamaholot 2026 yang berlangsung selama empat hari ini, pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan keindahan kain tenun, tetapi juga berbagai atraksi budaya lainnya seperti Pano Mowak (persiapan motif), Titi Jagung, hingga kerajinan unik dari tulang ikan paus dan kerang mutiara, yang semuanya memperkaya khazanah budaya Lamaholot. (Prokompim/Kominfo Lembata) ***


Bagikan

Berita Terkini

Bupati dan Wakil Bupati Lembata Hadiri Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara

Mengusung tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”, Presiden menegaskan bahwa seluruh pengabdian Polri harus

| Rabu, 01 Juli 2026
Aksi Nyata Bupati Lembata: Ikut Angkut Batu Bangun Fondasi TK St. Mikhael Baobolak

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 pada Revitalisa

| Selasa, 30 Juni 2026
Operasi Besar Disiapkan Bupati-Wabup Lembata, Dugaan Bisnis Ilegal BBM Subsidi Jadi Target

Padahal kuota BBM subsidi yang disalurkan ke Lembata disebut sudah sesuai pengajuan daerah. Namun antrean panjang dan ke

| Senin, 29 Juni 2026
Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD TA 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD

Penyampaian laporan ini merupakan bentuk tanggung jawab eksekutif kepada legislatif dan masyarakat luas atas pengelolaa

| Senin, 29 Juni 2026
Festival Lamaholot 2026 Siap Guncang Lembata, Empat Hari Perayaan Budaya Menuju Panggung Dunia

Festival ini menghadirkan beragam agenda, mulai dari pameran UMKM dan tenun ikat, karnaval budaya, pertunjukan seni etn

| Senin, 29 Juni 2026
Bupati Kanis: Menjadi Pengelola Bank Sampah adalah Pekerjaan Mulia

Ia menekankan bahwa di balik kesan 'kotor' saat bekerja, tersimpan hasil yang sangat bersih dan indah, baik secara fisi

| Sabtu, 20 Juni 2026
Pemkab Lembata Gelar Talk Show, Sosialisasikan Perda Kabupaten Layak Anak

Terdapat lima klaster utama yang menjadi perhatian, yakni pendidikan, kesehatan, budaya, rekreasi, serta perlindungan kh

| Jumat, 19 Juni 2026
Pemkab Lembata Kembali Raih Opini WTP Untuk Keenam Kalinya

BPK RI sebagai auditor eksternal pemerintah telah menilai dan memberikan opini wajar tanpa pengecualian terhadap informa

| Rabu, 10 Juni 2026
Indeks Berita

Poling

Pemerintah berencana mengkombinasikan iuran BPJS Kesehatan dengan asuransi swasta bagi keluarga mampu. Apakah Anda setuju kelas khusus BPJS Kesehatan